« Layanan Konsultasi Online Di Situs-situs Islam Indonesia | Main | Langkah Mudah Membuat Buletin Jum’at dengan Scribus »
Social Web, Versi Islami(?)
By zamrudkh | February 4, 2008
Segregasi, intoleransi, dan penyensoran; ataukah kesatuan, kepentingan bersama, dan lingkungan yang aman?
Seiring berkembangnya perhatian terhadap bisnis social web, peningkatan terkait juga bisa dijumpai pada apa yang bisa dipandang sebagai social website yang ditujukan untuk audiens berorientasi-keagamaan. Kalangan muslim bukanlah yang pertama atau satu-satunya dalam meluncurkan website eksklusif untuk sarana komunikasi, tapi perdebatan di tengah kalangan muslim seputar social website yang berorientasi-keagamaan terus berlanjut.
Nah, apakah perdebatan yang dimaksud itu?
Meskipun visi dan misi dari setiap website mungkin saja berbeda, tetapi semuanya punya benang merah yang sama yakni demi melayani dan mewujudkan komunikasi global di tengah-tengah kaum Muslim, serta untuk syiar Islam.
Kebanyakan dari website itu berfokus pada layanan video-sharing, yang menampung materi Islami, seperti musik Islami, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, Adhan (panggilan untuk shalat 5 waktu), dan, tentunya, video yang menerangkan tentang apa dan bagaimana sih Islam itu. mereka juga berusaha menyediakan platform bagi Muslim untuk mengekspresikan diri mereka dan mendiskusikan issu bersama melalui forum diskusi, blog, dan ruang chat.
Kesemua social website Muslim (social web Islami) ini memiliki panduan yang mengatur bahan-bahan yang boleh dimasukkan (upload) dan juga postingan yang dapat dikirim ke forum dan layanan interaktif.
Panduan ini mungkin berbeda antara satu situs dengan lainnya sesuai layanan yang disediakan, tetapi biasanya masih tetap berputar di orbit yang sama:
- Penghormatan terhadap Islam dan ajaran-ajarannya
- Pelarangan terhadap upaya menyerang personal, komunitas, agama, nabi, atau kitb suci
- Pelarangan terhadap materi atau komentar yang bersifat tidak pantas, cabul, pornografi, kekerasan, kasar, penghinaan, ancaman, atau pelecehan
- Pelarangan terhadap praktik spam
- Penghormatan terhadap hak cipta
Segregasi dan intoleransi
Meskipun website Islami menawarkan banyak layanan untuk Muslim, beberapa kalangan Muslim masih memandang mereka sebagai alat untuk mencerminkan adanya segregasi dan intoleransi.
Rerata jumlah pengunjung per minggu untuk beberapa website Islami:
Muxlimtv.com: 242,489
MuslimSpace.com: 399,131
IslamicTube.com: 159,761
Naseeb.com: 43,077
MuslimVideos: 56,546
Amr Elsayed, seorang progammer asal Mesir yang pengguna Facebook.com, berpendapat bahwa social web “global†jauh lebih baik dibanding yang social web Islami, karena mereka membuka pintu untuk interaksi lebih dan menyediakan semacam jembatan di antara budaya dan agama yang berbeda. Hal inilah, katanya, yang tidak akan terjadi ketika hanya ada satu budaya atau satu agama yang terepresentasi dalam suatu jejaring.
Hal senada diutarakan Sali Jamil (29 th), seorang Dokter Gigi asal Jordan, yang memilih social website yang bersifat umum karena mereka memberinya lebih banyak kesempatan untuk mengekspresikan diri dan berkomunikasi dengan lainnya, sesuatu yang ia rasa tidak mungkin dalam website Islami.
Website umum seperti Facebook dan YouTube menyediakan layanan lebih dan lebih mudah digunakan. Hal lainnya yaitu saya dapat menemukan siapapun teman-teman saya, baik itu Muslim atau non-Muslim, di tempat yang sama.
DI sisi lain, para pendukung website Islami menolak pandangan ini. Seperti Eman Mohammed (25 th), seorang penerjemah asal Mesir, ialah merupakan pengguna Muslimvideos.com dan muxlim.tv. Dia tak setuju kalau website Muslim disebut sebagai mencerminkan segregasi.
Jika kita sebagai Muslim mampu melahirkan materi-materi yang benar-benar kreatif dan menarik, non-Muslim pun akan tertarik untuk datang berkunjung dan melihat, dan ini akan membangun jembatan, bukannya segregasi.
Apa yang dipandang sebagai Islami oleh non-Muslim dipandang aman oleh beberapa pengguna Muslim. Huda (18 th), seorang Palestina yang pengguna muslimspace.com mengatakan:
Ya, ketika saya lihat sesuatu itu tentang Islam, saya merasa nyama seperti “tengah berada di rumah sendiriâ€; saya tak merasa takut—saya merasa aman.
Menurut pengguna lainnya, tidak ada itu yang namanya segregasi. Alih-alih segregasi, mereka memandang website Islami sebagai forum di mana mereka dapat bertemu dan berkomunikasi dengan orang-orang yang punya minat dan kepentingan yang serupa.
Seorang guru asal Libanon (29 th) dengan username “insan_muslim†di muslimspace.com menjustifikasi penggunaan social website Islami dengan mengatakan:
Muslimspace.com punya gaya uniknya tersendiri. Kami adalah komunitas Muslim virtual; kami berbagi pandangan kami tentang Ummah. Begitulah, kami di sini belajar tentang Muslim dari berbagai belahan dunia, dan kami dapat mengetahui problematika yang mereka hadapi setiap hari (di tempat yang dilanda ketegangan) atau di negara-negara Barat… Pun, (kami belajar tentang) kenkmatan hidup di masing-masing negara dari perspektif Islami.
Mohammed Al-Fatatry, pendiri Muxlim, Inc. (perusahaan induk dari muslimspace.com), mengatakan, “Kami percaya komunitas Muslim di seluruh dunia membutuhkan suatu platform untuk menyuarakan opini sebenar mereka, tanpa harus dihadapkan dengan atmosfer permusuhan dan hal-hal vulgar.†Dia menambahkan,
Kami tidak mensegregasi Muslim menjauh dari warga dunia lainnya, karena setidaknya 2 persen dari pengguna kami juga ialah non-Muslim.
Teknologi Terislamisasi
Pemilik username “icemuslim†di muslimspace.com ialah seorang perempuan (21 th) yang beralih masuk Islam (muallaf). Dia menemukan bahwa website-website ini menawarkan sebuah lingkungan yang aman yang sukar dijumpai di tempat lainnya.
Pertama, saya pikir kita hendaknya mengapresiasi website Muslim lebih dari (kita mengapresiasi) yang lainnya, karena mereka ialah Muslim! Maksud saya, daripada membuang-buang waktu surfing ‘berselancar’ di internet dengan mengunjungi situs-situs tanpa tujuan yang jelas, lebih baik membuat aktivitas itu (surfing internet) sebagai bagian dari ibadah dan belajar tentang Islam serta berusaha untuk mempersatukan Ummah di saat yang sama, seperti misalnya di muslimspace.com. Kini, internet memberikan kesempatan besar bagi Muslim dari seluruh penjuru dunia untuk saling mengenal satu sama lain. Juga, saya suka muslimspace.com karena ia setidaknya menerapkan arahan Islam dengan mencegah gambar-gambar yang tidak layak.
Sebagai tanggapan atas mereka yang mengkritisi jejaring sosial non-Islami sebagai tidak aman dan tanpa penyensoran, Khaled Mohsen (26 th), seorang guru asal Mesir, mengatakan bahwa itu masalah pilihan,
Social website umum tidak semuanya website yang memuat pornografi. Intinya ialah untuk memilih apa yang sesuai dengan nilai-nilai yang Anda anut.
Dia menjelaskan bahwa ada semacam trend di sebagian kalangan Muslim untuk “terlihat Islami.†Dalam prosesnya, dia mengatakan, mereka menggunakan istilah tertentu dan mengenakan pakaian-pakaian tertentu, dan ini tampaknya meluas untuk terjadi juga di dunia internet.
Akan jauh lebih baik jika kita sebagai Muslim dapat membuat sesuatu dengan karakteristik kita sendiri, daripada sekedar model copy-paste dari ide orang lain.
Akan tetapi tampaknya beberapa website berupaya untuk memiliki sebentuk competitive advantage. Al-Fatatry mengatakan,
Tujuan kami ialah untuk menyediakan sebuah layanan di mana orangtua Muslim dapat mengizinkan putra-putri mereka untuk menggunakannya tanpa terpapar oleh konten amoral dari website jejaring sosial dan website berbasis-pengguna pada umumnya.
Sementara para pengguna website Islami memahami tujuan dan panduan ini sebagai penyaring demi sebuah lingkungan yang aman, kalangan oponen memandangnya sebagai sebuah bentuk penyensoran.
“Panduan ini terlalu berlebihan. Dengan cara ini, situs-situs akan menghapus kebanyakan materi yang dikirimkan, dan itulah mengapa (berbeda dengan “situs Islami‖penerj), YouTube punya (pengguna yang besar sebanyak-penerj) 43 juta pengguna!†kata Amr.
Di sisi lain, sebagian Muslim memilih website Islami karena mereka terhindar baik itu dari materi-materi yang mengandung penghinaan maupun yang bernuansa cabul.
“Sebagai contoh, ketika anda mencari dengan suatu kata tertentu di YouTube, anda dibombardir dengan ratusan video yang mungkin saja mengandung materi yang tak pantas,†kata Eman.
Jejaring sosial ala Muslim ini pada mulanya diluncurkan dalam bentuk duplikasi dari layanan yang telah ada demi keuntungan bagi kalangan penguna Muslim, namun beberapa di antara mereka kini menemukan celah pengembangan ke wilayah inovatif yang tak terpikirkan sebelumnya.
Sebagai contohnya, Muxlim, Inc. berencana untuk menyertakan Muxlim Pal (dunia permainan ‘game’ virtual untuk remaja Muslim) dan askamuslim.com (sebuah layanan Tanya Jawab yang bertujuan untuk mewadahi kalangan Muslim dan non-Muslim untuk bersama mendiskusikan Islam).
“Kami memiliki rencana lanjutan menyusul meningkatnya pengguna kami yang non-Muslim, melalui beberapa layanan yang secara khusus ditargetkan untuk mereka,†jelas Al-Fattary.
Sebagaimana halnya internet telah menjadi fakta nyata dalam kehidupan kita sehari-hari, kalangan Muslim, seperti siapapun juga, tengah mencoba untuk menggunakan teknologi itu demi kepentingan dan kebaikan mereka. Kini, pertanyaannya menjadi berbeda; bukan lagi apakah Muslim harus punya website eksklusif mereka sendiri ataukah tidak—tapi pertanyaannya kini ialah seberapa sukses mereka mengelola situs-situs itu dan bisakah mereka mempertahankan apa yang telah dicapai. Pertanyaan ini terbuka untuk didiskusikan.
Rasha Dewedar, ialah asisten editor bagian Kesehatan dan Sains di IslamOnline.net. Ia meraih gelar di bidang Kedokteran Mulut dan Gigi dari Universitas Kairo. Anda dapat menghubunginya dengan mengirim e-mail ke ScienceTech[at]islam-online.net
Artikel aslinya bisa diakses di Social Web, the Islamic Version. Diterjemahkan secara bebas oleh Zamrud Kh.
Topics: Situs Islam |
Comments
You must be logged in to post a comment.